Keep up with our latest news and site updates

Subscribe Via RSS Reader

Selasa, 28 Desember 2010

STANDAR MAKANAN CAIR DI RS


MAKANAN CAIR
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga kental. Makanan ini diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan mengunyah, menelan, dan mencernakan makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, pasca perdarahan saluran cerna, serta pra dan pasca bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau parental.

Menurut konsistensi makanan, makanan cair terdiri atas tiga jenis, yaitu: makanan cair jernih, makanan cair penuh, dan makanan cair kental. Makanan cair jernih adalah makanan yang disajikan dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang dengan kandungan sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan dalam wadah bening. Jenis cairan yang diberikan tergantung pada keadaan penyakit atau jenis operasi yang dijalani.

Umumnya makanan cair mengandung 400-500 kalori per sajian dan sudah mengandung gula, lemak, serta nutrisi yang berbeda-beda. Ini disesuaikan dengan kebutuhan sekali makan bagi kita yang tengah berdiet. UCLA School of Medicine meneliti 71 laki-laki dan 230 perempuan untuk mencari tahu tingkat efektivitasnya.
Dengan total kalori yang diasup setiap hari 1.000-1.200 kalori, setelah 12 minggu, berat para laki-laki turun sebanyak 8.5 kg. Sedangkan pada perempuan, berat badannya menyusut hingga 6 kg.
Diberikan kepada pasien sebelum dan sesudah operasi tertentu, dalam keadaan mual dan muntah, dengan kesadaran menurun, suhu badan sangat tinggi, tetanus dengan keadaan belum dapat membuka mulut cukup lebar, tifus abdominalis dan Kurang Kalori Protein (KKP) berat dengan berat badan lebih dari 7 kg dan umur lebih dari 1 tahun.
Makanan ini mengandung cukup energi dan protein tapi rendah zat besi, tiamin, dan vitamin. Makanan cair standar mengandung 1000 kilokalori tiap 1000ml tapi atas permintaan khusus dapat dibuat makanan cair yang mengandung 1200 kilikalori tiap 1000ml.
Nutrisi merupakan sumber energy yang dibutuhan tubuh untuk menjaga metabolismne normal tubuh, melakukan aktifitas fisik, menjaga metabolism pada kondisi sakit maupun terapi, dan memperbaiki kerusakan jaringan dan mencegah penyakit.
Apakah peran nutrisi pada perawatan paliatif?
Pada pasien-pasien dengan sakit berat umumnya nafsu makan pasien akan terganggu disebabkan karena adanya keluhan mual, muntah, diare, depresi, sembelit  atau adanya sariawan di mulut. Akibat penurunan nafsu makan dapat terjadi penurunan berat badan yang dapat berakibat penurunan kondisi tubuh.  
Selain itu penolakan pasien untuk makan dapat juga disebabkan akibat kemarahan, frustasi dan kesedihan akibat penyakitnya.
One goal of palliative
Tujuan pemberian nutrisi pada perawatan paliatif.
Mengoptimalkan fungsi organ2 tubuh, memberikan rasa nyaman melalui makanan.

Faktor-faktor apa yang menentukan kebutuhan nutrisi seseorang?
Kebutuhan nutrisi seseorang ditentukan oleh usia, berat badan, tinggi badan dan jenis kelamin. Selain itu kondisi penyakit yang diderita dan aktifitas fisik yang dilakukan seseorang juga menentukan berapa kebutuhan energi.
Kebutuhan nutrisi pasien sebaiknya dapat selalu dipenuhi baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Kuantitas berarti jumlah nutrisi pasien dapat terpenuhi, sedangkan kualitas berarti makronutrien dan mikronutrien yang dibutuhkan pasien terpenuhi.
Bila jumlah makan pasien tidak terpenuhi dalam jangka pendek maka dapat dipastikan pasien akan merasa lemas. Kondisi ini mirip dengan orang yang berpuasa. Bila jumlah makan pasien tidak terpenuhi dalam jangka panjang, maka dapat timbul kondisi malnutrisi yang dapat menimbulkan berbagai masalah seperti peningkatan risiko infeksi, gangguan penyembuhan luka dan gangguan metabolisme tubuh lainnya.
Makanan juga harus dijaga kebersihannya agar tidak meningkatkan risiko infeksi yang dapat memperburuk kondisi pasien. Perlu juga diperhatikan agar pasien selalu mengkonsumsi makanan yang dimasak, hidari makanan yang tidak dimasak.
Bentuk makanan yang dapat diberikan
Bentuk makanan yang diberikan dapat berupa:
1.    Makanan padat
Makanan padat hanya dapat diberikan melalui oral/mulut.
2.    Makanan cair
Makanan cair diberikan apabila pasien tidak dapat mengunyah atau menelan makanan padat. Makanan cair dapat berupa makanan padat yang di blender dengan ditambah air atau makanan berbentuk formula. Formula dapat berupa formula dengan komposisi seimbang atau formula dengan komposisi tertentu sesuai dengan kebutuhan pasien. Saat ini tersedia berbagai jenis formula sesuai kebutuhan pasien. Formula dapat diberikan sebagian untuk melengkapi makanan pasien sesuai dengan kebutuhan. Formula juga dapat diberikan total dalam usaha memenuhi kebutuhan pasien.
Cara pemberian nutrisi
Nutrisi dapat diberikan melalui:
1.    Melalui mulut atau oral
Bila pasien dapat menelan dan mempunyai nafsu makan yang baik, maka pemberian makan melalui mulut dapat memenuhi kebutuhan pasien
2.    Melalui pipa nasogastrik
Bila pemberian makan melalui mulut tidak mencukupi kebutuhan pasien, maka pemberian makan dapat dicukupi dengan pemberian melalui pipa nasogastrik. Pemberian makan melalui pipa nasogastrik tidak membutuhkan nafsu makan atau kemampuan menelan dari pasien. Bila pasien sama sekali tidak dapat mengkonsumsi makanan melalui mulut maka seluruh  makanan dapat diberikan melalui pipa nasogastrik. Bila pasien harus mendapat makanan melalui pipa nasogastrik dalam jangka lama, maka dapat dipasang pipa pada perut langsung ke lambung yang disebut gastrotomi, sehingga pemenuhan kebutuhan pasien selalu terjamin. Pemasangan gastrostomi ini lebih nyaman dibandingkan penggunaan pipa naso gastrik.
Selain pipa nasogastrik dari hidung ke lambung dapat juga dipasang pipa naso-duodenal yaitu pipa dari hidung ke usus.
3.    Melalui pembuluh darah/infus
Pemberian makan melalui pembuluh darah/infus dapat digunakan apabila saluran pencernaan pasien tidak berfungsi baik. Pemberian makan melalui infus dapat diberikan sebagian atau seluruhnya tergantung kondisi pasien. Selama saluran cerna pasien masih dapat berfungsi maka tidak dianjurkan pemberian makan melalui infus.
Jenis makanan yang dapat diberikan:
Makanan pasien sebaiknya mempunyai komposisi seimbang yang berarti mengandung sumber karbohidrat sekitar 50-60%, mengandung sumber protein sekitar 15-20% dengan gabungan antara protein hewani dan nabati, dan mengandung sumber lemak sekitar 25-30% ditambah vitamin mineral.
Sumber karbohidrat adalah nasi, roti, mie, bihun, jagung, dan pasta. Sumber protein hewani adalah ikan, telur, ayam, daging dan susu, sedangkan sumber protein nabati adalah kedele, kacang hijau, kacang merah, jamur, tahu, dan tempe. Sumber lemak adalah lemak, minyak, margarin. Sumber vitamin dan mineral terutama dari sayur dan buah segar.
Syarat-syarat makanan cair:
1. Jumlah makanan cair yang diberikan disesuaikan
dengan kebutuhan cairan dan energi;
2. Makanan tidak merangsang;
3. Bila diberikan lewat pipa, konsistensi sedemikian rupa hingga dapat melalui pipa karet yang digunakan untuk bayi dan anak;
4. Bila tidak melalui pipa karet, perhatikan variasi makanan dalam rupa dan rasa; dan

5. Diberikan dalam porsi kecil dan sering (6-8 kali sehari).
Cara Menyiapkan dan Memberikan Makanan
- Bila ada lemari es, makanan dapat dibuat sekaligus
untuk 24 jam, dimasukkan dalam botol steril dan
disimpan.
- Bila tidak ada lemari es, makanan hendaknya dibuat
menjelang waktu makan. Makanan tidak boleh
dibiarkan pada suhu kamar selama 6 jam.
- Makanan cair dapat diberikan dengan sendok atau
melalui pipa (sonde). Sebelum diberikan, makanan
dihangatkan hingga suhu badan.

MAKANAN YANG BOLEH DIBERIKAN
maizena, tepung beras, tepung terigu, tepung sagu, hunkwe, tepung kanji, gula, margarin, minyak kelapa, dan minyak kacang.
Susu sapi, sari kedele, telur dicampur dalam makanan, bubur kacang hijau saring.
Sari buah dari jeruk, tomat, pepaya, sirsak, apel; sari sayur dari bayam, labu kuning, dan wortel.

Cara mengatasi nafsu makan pasien
Bagaimana mengatasi pasien tidak nafsu makan?
Keluhan tidak nafsu makan sangat sering dialami oleh pasien-pasien yang mempnyai penyakit berat. Pemberian makan pada pasien ini sebaiknya:
1.    Porsi kecil dan sering
2.    Makanlah secara perlahan dan bersantailah setelah makan
3.    Gunakan makanan selingan padat kalori agar dapat memenuhi kebutuhan energi misalnya makaroni skotel, telur dadar dengan keju parut dan sebagainya
4.    Lakukan sedikit aktifitas agar dapat merangsang nafsu makan


Bagaimana mengatasi pasien dengan rasa perih di mulut ?    
1.    Pilihlah makanan yang lembut
2.    Pilihlah makanan yang berkuah banyak.
3.    Perlunak makanan menggunakan susu, kream, margarin
4.    Masaklah makanan sampai lunak dan potong makanan tersebut menjadi potongan kecil-kecil
5.    Makanan juga dapat di blender sehingga membentuk bubur.
6.    Hindari makanan yang bersifat iritasi terhadap mulut seperti makanan asam, makanan pedas, makanan terlalu berbumbu, makanan terlalu kering, makanan yang keras dan kasar.
7.    Bersihkan mulut, sikatlah gigi, gusi dan lidah, minimum 3 kali perhari dengan sikat yang sangat lembut.
8.    Gunakan obat pencuci mulut.
9.    Hisaplah es untuk mencegah mukositis.

Bagaimana mengatasi mual dan muntah?
1.    Makanlah porsi kecil perlahan
2.    Makanlah makanan yang tidak berkuah
3.    Jangan berbaring pada saat makan dan 2 jam setelahnya.
4.    Jangan makan makanan berlemak yang dapat menambah rasa mual
5.    Hindari makanan yang berbau menyengat
6.    Bila mual datang di pagi hari, makanan camilan padat kalori di sore dan malam hari dan sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

TV OnLine

Live TV (Mivo TV-RCTI-TRANS TV-SCTV-GLOBAL TV):

 
2009 DARK ANGEL All Rights Reserved.
blogger theme designed by blogger templates